Alquran-indonesia.com


m.berita8.com


 
surah / surat : Al-Kahfi Ayat : 101
ٱلَّذِينَ
orang-orang yang
كَانَتْ
adalah
أَعْيُنُهُمْ
mata mereka
فِى
dalam
غِطَآءٍ
tertutup
عَن
dari
ذِكْرِى
peringatan-Ku
وَكَانُوا۟
dan adalah mereka
لَا
tidak
يَسْتَطِيعُونَ
mereka dapat/sanggup
سَمْعًا
mendengar

اۨلَّذِيۡنَ كَانَتۡ اَعۡيُنُهُمۡ فِىۡ غِطَآءٍ عَنۡ ذِكۡرِىۡ وَكَانُوۡا لَا يَسۡتَطِيۡعُوۡنَ سَمۡعًا‏ ﴿۱۰۱﴾  

alladziina kaanat a'yunuhum fii ghithaa-in 'an dzikrii wakaanuu laa yastathii'uuna sam'aan

101. yaitu orang-orang yang matanya dalam keadaan tertutup dari memperhatikan tanda-tanda kebesaran-Ku, dan adalah mereka tidak sanggup mendengar.
 
 
surah / surat : Al-Kahfi Ayat : 102
أَفَحَسِبَ
maka apakah menyangka
ٱلَّذِينَ
orang-orang yang
كَفَرُوٓا۟
(mereka) kafir
أَن
bahwa
يَتَّخِذُوا۟
mereka mengambil
عِبَادِى
hamba-hambaKu
مِن
dari
دُونِىٓ
selain Aku
أَوْلِيَآءَ
pemimpin/penolong
إِنَّآ
sesungguhnya Kami
أَعْتَدْنَا
Kami sediakan
جَهَنَّمَ
neraka Jahanam
لِلْكَٰفِرِينَ
bagi orang-orang kafir
نُزُلًا
turun/tempat tinggal

اَفَحَسِبَ الَّذِيۡنَ كَفَرُوۡۤا اَنۡ يَّتَّخِذُوۡا عِبَادِىۡ مِنۡ دُوۡنِىۡۤ اَوۡلِيَآءَ‌ ؕ اِنَّاۤ اَعۡتَدۡنَا جَهَـنَّمَ لِلۡكٰفِرِيۡنَ نُزُلًا‏ ﴿۱۰۲﴾  

afahasiba alladziina kafaruu an yattakhidzuu 'ibaadii min duunii awliyaa-a innaa a'tadnaa jahannama lilkaafiriina nuzulaan

102. maka apakah orang-orang kafir menyangka bahwa mereka (dapat) mengambil hamba-hamba-Ku menjadi penolong selain Aku? Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka Jahannam tempat tinggal bagi orang-orang kafir.
 
 
surah / surat : Al-Kahfi Ayat : 103
قُلْ
katakanlah
هَلْ
apakah/maukah
نُنَبِّئُكُم
Kami jelaskan/beritahukan kepadamu
بِٱلْأَخْسَرِينَ
dengan/tentang orang-orang yang paling merugi
أَعْمَٰلًا
perbuatan

قُلۡ هَلۡ نُـنَبِّئُكُمۡ بِالۡاَخۡسَرِيۡنَ اَعۡمَالًا ؕ‏ ﴿۱۰۳﴾  

qul hal nunabbi-ukum bial-akhsariina a'maalaan

103. Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?"
 
 
surah / surat : Al-Kahfi Ayat : 104
ٱلَّذِينَ
orang-orang yang
ضَلَّ
sesat/sia-sia
سَعْيُهُمْ
usaha/perbuatan mereka
فِى
dalam/demi
ٱلْحَيَوٰةِ
kehidupan
ٱلدُّنْيَا
dunia
وَهُمْ
dan mereka
يَحْسَبُونَ
mereka menyangka
أَنَّهُمْ
bahwasanya mereka
يُحْسِنُونَ
mereka berbuat baik
صُنْعًا
perbuatan

اَ لَّذِيۡنَ ضَلَّ سَعۡيُهُمۡ فِى الۡحَيٰوةِ الدُّنۡيَا وَهُمۡ يَحۡسَبُوۡنَ اَنَّهُمۡ يُحۡسِنُوۡنَ صُنۡعًا‏ ﴿۱۰۴﴾  

alladziina dhalla sa'yuhum fii alhayaati alddunyaa wahum yahsabuuna annahum yuhsinuuna shun'aan

104. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.
 
 
surah / surat : Al-Kahfi Ayat : 105
أُو۟لَٰٓئِكَ
mereka itu
ٱلَّذِينَ
orang-orang yang
كَفَرُوا۟
(mereka) kafir
بِـَٔايَٰتِ
dengan/terhadap ayat-ayat
رَبِّهِمْ
Tuhan mereka
وَلِقَآئِهِۦ
dan pertemuan denganNya
فَحَبِطَتْ
maka/hapus/gugurlah
أَعْمَٰلُهُمْ
amalan mereka
فَلَا
maka tidak
نُقِيمُ
Kami menegakkan
لَهُمْ
bagi mereka
يَوْمَ
pada hari
ٱلْقِيَٰمَةِ
kiamat
وَزْنًا
timbangan

اُولٰۤٮِٕكَ الَّذِيۡنَ كَفَرُوۡا بِاٰيٰتِ رَبِّهِمۡ وَلِقَآٮِٕهٖ فَحَبِطَتۡ اَعۡمَالُهُمۡ فَلَا نُقِيۡمُ لَهُمۡ يَوۡمَ الۡقِيٰمَةِ وَزۡنًـا‏ ﴿۱۰۵﴾  

ulaa-ika alladziina kafaruu bi-aayaati rabbihim waliqaa-ihi fahabithat a'maaluhum falaa nuqiimu lahum yawma alqiyaamati waznaan

105. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia [896], maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.

[896] Maksudnya: tidak beriman kepada pembangkitan di hari kiamat, hisab dan pembalasan.
 
 
surah / surat : Al-Kahfi Ayat : 106
ذَٰلِكَ
demikianlah
جَزَآؤُهُمْ
balasan mereka
جَهَنَّمُ
neraka Jahanam
بِمَا
dengan apa/sebab
كَفَرُوا۟
mereka kafir
وَٱتَّخَذُوٓا۟
dan mereka mengambil/menjadikan
ءَايَٰتِى
ayat-ayatKu
وَرُسُلِى
dan Rasul-RasulKu
هُزُوًا
olok-olok

ذٰلِكَ جَزَآؤُهُمۡ جَهَنَّمُ بِمَا كَفَرُوۡا وَاتَّخَذُوۡۤا اٰيٰتِىۡ وَرُسُلِىۡ هُزُوًا‏ ﴿۱۰۶﴾  

dzaalika jazaauhum jahannamu bimaa kafaruu waittakhadzuu aayaatii warusulii huzuwaan

106. Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok.
 
 
surah / surat : Al-Kahfi Ayat : 107
إِنَّ
sesungguhnya
ٱلَّذِينَ
orang-orang yang
ءَامَنُوا۟
beriman
وَعَمِلُوا۟
dan mereka mengerjakan/beramal
ٱلصَّٰلِحَٰتِ
kebajikan/saleh
كَانَتْ
adalah
لَهُمْ
bagi mereka
جَنَّٰتُ
surga
ٱلْفِرْدَوْسِ
firdaus
نُزُلًا
turun/tempat tinggal

اِنَّ الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ كَانَتۡ لَهُمۡ جَنّٰتُ الۡفِرۡدَوۡسِ نُزُلًا ۙ‏ ﴿۱۰۷﴾  

inna alladziina aamanuu wa'amiluu alshshaalihaati kaanat lahum jannaatu alfirdawsi nuzulaan

107. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal,
 
 
surah / surat : Al-Kahfi Ayat : 108
خَٰلِدِينَ
mereka kekal
فِيهَا
didalamnya
لَا
tidak
يَبْغُونَ
mereka ingin
عَنْهَا
daripadanya
حِوَلًا
pindah

خٰلِدِيۡنَ فِيۡهَا لَا يَـبۡغُوۡنَ عَنۡهَا حِوَلًا‏ ﴿۱۰۸﴾  

khaalidiina fiihaa laa yabghuuna 'anhaa hiwalaan

108. mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah dari padanya.
 
 
surah / surat : Al-Kahfi Ayat : 109
قُل
katakanlah
لَّوْ
sekiranya
كَانَ
adalah
ٱلْبَحْرُ
lautan
مِدَادًا
tinta
لِّكَلِمَٰتِ
untuk kalimat-kalimat
رَبِّى
Tuhanku
لَنَفِدَ
tentu habis
ٱلْبَحْرُ
lautan
قَبْلَ
sebelum
أَن
akan
تَنفَدَ
habis
كَلِمَٰتُ
kalimat-kalimat
رَبِّى
Tuhanku
وَلَوْ
meskipun
جِئْنَا
Kami datangkan
بِمِثْلِهِۦ
dengan semisal/sebabnya itu
مَدَدًا
tinta

قُلْ لَّوۡ كَانَ الۡبَحۡرُ مِدَادًا لِّـكَلِمٰتِ رَبِّىۡ لَـنَفِدَ الۡبَحۡرُ قَبۡلَ اَنۡ تَـنۡفَدَ كَلِمٰتُ رَبِّىۡ وَلَوۡ جِئۡنَا بِمِثۡلِهٖ مَدَدًا‏ ﴿۱۰۹﴾  

qul law kaana albahru midaadan likalimaati rabbii lanafida albahru qabla an tanfada kalimaatu rabbii walaw ji/naa bimitslihi madadaan

109. Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)".
 
SEBAB TURUNNYA AYAT: Ibnu Abu Hatim mengetengahkan sebuah hadis dan demikian pula Ibnu Abud Dunya di dalam kitab Al Ikhlash, yang kedua-dua-nya mengetengahkan hadis ini melalui Thawus. Thawus menceritakan bahwa ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah saw., "Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku berada di sini dengan maksud untuk mengharapkan pahala dari Allah, dan aku ingin sekali melihat kedudukanku (pahalaku)". Rasulullah saw. tidak menjawabnya sedikit pun, hingga turunlah firman-Nya, "Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya." (Q.S. Al Kahfi, 110). Hanya saja predikat hadis di atas Mursal. Hadis di atas diketengahkan pula oleh Imam Hakim di dalam kitab Al Mustadrak secara Maushul melalui Thawus yang ia terima dari sahabat Ibnu Abbas r.a. Imam Hakim menganggap hadis ini sahih dengan syarat Syaikhain. Ibnu Abu Hatim mengetengahkan sebuah hadis melalui Mujahid yang menceritakan bahwa ada seseorang dari kalangan kaum Muslimin ikut berperang di jalan Allah, lalu ia menginginkan supaya dapat melihat kedudukan (pahala)nya. Maka Allah menurunkan firman-Nya, "Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya..."(Q.S. Al Kahfi, 110). Abu Na'im dan Ibnu Asakir di dalam kitab Tarikh mengetengahkan sebuah hadis melalui jalur periwayatan As Saddiyush Shaghir. yang ia terima dari Al Kalbiy yang ia terima dari Abu Shaleh dari sahabat lbnu Abbas r.a. yang menceritakan bahwa Jundub ibnu Zuhair mengatakan, "Jika seseorang telah salat, telah puasa atau telah bersedekah (maka ia pasti memperoleh pahala)". Maka orang-orang pun menyebutnya dengan baik, dan hal ini menambah semangat Jundub di dalam menjalankan hal-hal tersebut, karena sebutan baik itu membuatnya senang. Maka turunlah firman-Nya mengenai peristiwa tersebut, yaitu, "Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya ..."(Q.S. Al Kahfi, 110).
 
 
surah / surat : Al-Kahfi Ayat : 110
قُلْ
katakanlah
إِنَّمَآ
sesungguhnya hanyalah
أَنَا۠
aku
بَشَرٌ
seorang manusia
مِّثْلُكُمْ
seperti kamu
يُوحَىٰٓ
diwahyukan
إِلَىَّ
kepadaku
أَنَّمَآ
bahwa sesungguhnya hanyalah
إِلَٰهُكُمْ
Tuhan kamu
إِلَٰهٌ
Tuhan
وَٰحِدٌ
satu/esa
فَمَن
maka barangsiapa
كَانَ
adalah
يَرْجُوا۟
mengharapkan
لِقَآءَ
perjumpaan
رَبِّهِۦ
Tuhannya
فَلْيَعْمَلْ
maka hendaklah ia mengerjakan
عَمَلًا
pekerjaan/amalan
صَٰلِحًا
kebajikan/saleh
وَلَا
dan janganlah
يُشْرِكْ
ia persekutukan
بِعِبَادَةِ
dengan/dalam peribadatan
رَبِّهِۦٓ
Tuhannya
أَحَدًۢا
seseorang


qul innamaa anaa basyarun mitslukum yuuhaa ilayya annamaa ilaahukum ilaahun waahidun faman kaana yarjuu liqaa-a rabbihi falya'mal 'amalan shaalihan walaa yusyrik bi'ibaadati rabbihi ahadaan

110. Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".
 
SEBAB TURUNNYA AYAT: Imam Bukhari mengetengahkan sebuah hadis melalui sahabat Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah saw. berkata kepada malaikat Jibril, "Apakah gerangan yang menyebabkanmu tidak menziarahiku sebagaimana biasanya?". Lalu turunlah firman-Nya, "Dan tidaklah kami turun, melainkan dengan perintah Rabbmu..." (Q.S. Maryam, 64). Ibnu Abu Hatim mengetengahkan sebuah hadis melalui Ikrimah yang menceritakan bahwa malaikat Jibril tidak turun membawa wahyu. Kemudian hadis Ikrimah ini menceritakan hal yang sama dengan hadis di atas tadi. Ibnu Murdawaih mengetengahkan sebuah hadis melalui sahabat Anas r.a. yang menceritakan bahwa Nabi saw. bertanya kepada malaikat Jibril tentang daerah mana yang disukai oleh Allah dan daerah mana yang dibenci oleh-Nya. Maka malaikat Jibril menjawab, "Aku tidak tahu, nanti akan kutanyakan (kepada-Nya)". Selanjutnya malaikat Jibril turun lagi yang pada saat itu ia telah absen selama beberapa waktu tidak turun menemui Nabi saw. Maka Nabi saw. berkata kepadanya, "Sungguh engkau absen datang kepadaku, sehingga aku sangat merindukanmu". Ketika itu juga malaikat Jibril membacakan firman-Nya, "Dan tidaklah kami turun, melainkan dengan perintah Rabbmu." (Q.S. Maryam, 64). Ibnu Ishaq mengetengahkan sebuah hadis melalui sahabat Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan bahwa ketika orang-orang Quraisy menanyakan kepada Nabi saw. perihal Ash-habul Kahfi, maka selama lima belas hari Allah tidak menurunkan wahyu-Nya kepada Nabi saw. Ketika malaikat Jibril turun dengan membawa wahyu-Nya, Nabi saw. berkata kepadanya, "Mengapa engkau absen?" Kemudian Ibnu Ishak menyebutkan kelanjutan hadis ini sama dengan hadis-hadis yang sebelumnya.