Alquran-indonesia.com


m.berita8.com


 
surah / surat : At-Taubah Ayat : 71
وَٱلْمُؤْمِنُونَ
dan orang-orang beriman laki-laki
وَٱلْمُؤْمِنَٰتُ
dan orang-orang beriman perempuan
بَعْضُهُمْ
sebagian mereka
أَوْلِيَآءُ
pelindung/penolong
بَعْضٍ
sebagian yang lain
يَأْمُرُونَ
mereka menyuruh
بِٱلْمَعْرُوفِ
dengan berbuat kebaikan
وَيَنْهَوْنَ
dan mereka mencegah
عَنِ
dari
ٱلْمُنكَرِ
berbuat kemungkaran
وَيُقِيمُونَ
dan mereka mendirikan
ٱلصَّلَوٰةَ
sholat
وَيُؤْتُونَ
dan mereka menunaikan
ٱلزَّكَوٰةَ
zakat
وَيُطِيعُونَ
dan mereka taat
ٱللَّهَ
Allah
وَرَسُولَهُۥٓ
dan RasulNya
أُو۟لَٰٓئِكَ
mereka itu
سَيَرْحَمُهُمُ
mereka diberi rahmat
ٱللَّهُ
Allah
إِنَّ
sesungguhnya
ٱللَّهَ
Allah
عَزِيزٌ
Maha Perkasa
حَكِيمٌ
Maha Bijaksana

وَالۡمُؤۡمِنُوۡنَ وَالۡمُؤۡمِنٰتُ بَعۡضُهُمۡ اَوۡلِيَآءُ بَعۡضٍ‌ۘ يَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡكَرِ وَيُقِيۡمُوۡنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤۡتُوۡنَ الزَّكٰوةَ وَيُطِيۡعُوۡنَ اللّٰهَ وَرَسُوۡلَهٗ‌ؕ اُولٰۤٮِٕكَ سَيَرۡحَمُهُمُ اللّٰهُؕ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيۡزٌ حَكِيۡمٌ‏ ﴿۷۱﴾  

waalmu/minuuna waalmu/minaatu ba'dhuhum awliyaau ba'dhin ya/muruuna bialma'ruufi wayanhawna 'ani almunkari wayuqiimuuna alshshalaata wayu/tuuna alzzakaata wayuthii'uuna allaaha warasuulahu ulaa-ika sayarhamuhumu allaahu inna allaaha 'aziizun hakiimun

71. Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta'at pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
 
 
surah / surat : At-Taubah Ayat : 72
وَعَدَ
telah menjanjikan
ٱللَّهُ
Allah
ٱلْمُؤْمِنِينَ
orang-orang beriman laki-laki
وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ
dan orang-orang beriman perempuan
جَنَّٰتٍ
surga
تَجْرِى
mengalir
مِن
dari
تَحْتِهَا
bawahnya
ٱلْأَنْهَٰرُ
sungai-sungai
خَٰلِدِينَ
mereka kekal
فِيهَا
didalamnya
وَمَسَٰكِنَ
dan tempat-tempat
طَيِّبَةً
yang bagus
فِى
di
جَنَّٰتِ
surga
عَدْنٍ
'Adn
وَرِضْوَٰنٌ
dan keridhaan
مِّنَ
dari
ٱللَّهِ
Allah
أَكْبَرُ
lebih besar
ذَٰلِكَ
demikian itu
هُوَ
ia/itulah
ٱلْفَوْزُ
keuntungan
ٱلْعَظِيمُ
besar

وَعَدَ اللّٰهُ الۡمُؤۡمِنِيۡنَ وَالۡمُؤۡمِنٰتِ جَنّٰتٍ تَجۡرِىۡ مِنۡ تَحۡتِهَا الۡاَنۡهٰرُ خٰلِدِيۡنَ فِيۡهَا وَمَسٰكِنَ طَيِّبَةً فِىۡ جَنّٰتِ عَدۡنٍ‌ ؕ وَرِضۡوَانٌ مِّنَ اللّٰهِ اَكۡبَرُ‌ ؕ ذٰ لِكَ هُوَ الۡفَوۡزُ الۡعَظِيۡمُ‏ ﴿۷۲﴾  

wa'ada allaahu almu/miniina waalmu/minaati jannaatin tajrii min tahtihaa al-anhaaru khaalidiina fiihaa wamasaakina thayyibatan fii jannaati 'adnin waridhwaanun mina allaahi akbaru dzaalika huwa alfawzu al'azhiimu

72. Allah menjanjikan kepada orang-orang mu'min, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.
 
 
surah / surat : At-Taubah Ayat : 73
يَٰٓأَيُّهَا
wahai
ٱلنَّبِىُّ
Nabi
جَٰهِدِ
perangilah
ٱلْكُفَّارَ
orang-orang kafir
وَٱلْمُنَٰفِقِينَ
dan orang-orang munafik
وَٱغْلُظْ
dan bersikap keraslah
عَلَيْهِمْ
atas mereka
وَمَأْوَىٰهُمْ
dan tempat mereka
جَهَنَّمُ
neraka jahanam
وَبِئْسَ
dan seburuk-buruk
ٱلْمَصِيرُ
tempat kembali

يٰۤاَيُّهَا النَّبِىُّ جَاهِدِ الۡـكُفَّارَ وَالۡمُنٰفِقِيۡنَ وَاغۡلُظۡ عَلَيۡهِمۡ‌ؕ وَ مَاۡوٰٮهُمۡ جَهَـنَّمُ‌ؕ وَبِئۡسَ الۡمَصِيۡرُ‏ ﴿۷۳﴾  

yaa ayyuhaa alnnabiyyu jaahidi alkuffaara waalmunaafiqiina waughluzh 'alayhim wama/waahum jahannamu wabi/sa almashiiru

73. Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah jahannam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya.
 
 
surah / surat : At-Taubah Ayat : 74
يَحْلِفُونَ
mereka bersumpah
بِٱللَّهِ
dengan Allah
مَا
tidak
قَالُوا۟
mereka mengatakan
وَلَقَدْ
dan/padahal sesungguhnya
قَالُوا۟
mereka berkata
كَلِمَةَ
perkataan
ٱلْكُفْرِ
kekafiran
وَكَفَرُوا۟
dan mereka kafir
بَعْدَ
sesudah
إِسْلَٰمِهِمْ
Islam mereka
وَهَمُّوا۟
dan mereka mengingini
بِمَا
kepada apa
لَمْ
yang tidak
يَنَالُوا۟
mereka capai
وَمَا
dan tidak
نَقَمُوٓا۟
mereka mencela
إِلَّآ
kecuali
أَنْ
telah
أَغْنَىٰهُمُ
mencukupkan mereka
ٱللَّهُ
Allah
وَرَسُولُهُۥ
dan RAsulNya
مِن
dari
فَضْلِهِۦ
karuniaNya
فَإِن
maka jika
يَتُوبُوا۟
mereka bertaubat
يَكُ
adalah itu
خَيْرًا
lebih baik
لَّهُمْ
bagi mereka
وَإِن
dan jika
يَتَوَلَّوْا۟
mereka berpaling
يُعَذِّبْهُمُ
niscaya mengazab mereka
ٱللَّهُ
Allah
عَذَابًا
azab
أَلِيمًا
pedih
فِى
di
ٱلدُّنْيَا
dunia
وَٱلْءَاخِرَةِ
dan akhirat
وَمَا
dan tidak ada
لَهُمْ
bagi mereka
فِى
di
ٱلْأَرْضِ
bumi
مِن
dari
وَلِىٍّ
pelindung
وَلَا
dan tidak
نَصِيرٍ
penolong

يَحۡلِفُوۡنَ بِاللّٰهِ مَا قَالُوۡا ؕ وَلَقَدۡ قَالُوۡا كَلِمَةَ الۡـكُفۡرِ وَكَفَرُوۡا بَعۡدَ اِسۡلَامِهِمۡ وَهَمُّوۡا بِمَا لَمۡ يَنَالُوۡا‌ ۚ وَمَا نَقَمُوۡۤا اِلَّاۤ اَنۡ اَغۡنٰٮهُمُ اللّٰهُ وَرَسُوۡلُهٗ مِنۡ فَضۡلِهٖ‌ ۚ فَاِنۡ يَّتُوۡبُوۡا يَكُ خَيۡرًا لَّهُمۡ‌ ۚ وَاِنۡ يَّتَوَلَّوۡا يُعَذِّبۡهُمُ اللّٰهُ عَذَابًا اَلِيۡمًا ۙ فِى الدُّنۡيَا وَالۡاٰخِرَةِ‌ ۚ وَمَا لَهُمۡ فِى الۡاَرۡضِ مِنۡ وَّلِىٍّ وَّلَا نَصِيۡرٍ‏ ﴿۷۴﴾  

yahlifuuna biallaahi maa qaaluu walaqad qaaluu kalimata alkufri wakafaruu ba'da islaamihim wahammuu bimaa lam yanaaluu wamaa naqamuu illaa an aghnaahumu allaahu warasuuluhu min fadhlihi fa-in yatuubuu yaku khayran lahum wa-in yatawallaw yu'adzdzibhumu allaahu 'adzaaban aliiman fii alddunyaa waal-aakhirati wamaa lahum fii al-ardhi min waliyyin walaa nashiirin

74. Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya [650], dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat; dan mereka sekali-kali tidaklah mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi.

[650] Maksudnya: mereka ingin membunuh Nabi Muhammad SAW
 
SEBAB TURUNNYA AYAT: Ibnu Abu Hatim mengetengahkan sebuah hadis melalui Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan, bahwa Jallas bin Suwaid bin Shamit adalah salah seorang di antara mereka yang tidak ikut berangkat ke medan perang Tabuk; ia tidak mengindahkan himbauan Rasulullah saw. Bahkan Jallas mengatakan, "Sungguh jika lelaki ini (Nabi Muhammad) memang benar, berarti kami ini lebih buruk daripada keledai." Umair bin Said mendengarkan apa yang telah ia ucapkan itu, lalu ia melaporkannya kepada Rasulullah saw. Ketika ditanyakan kepadanya, ia bersumpah dengan menyebut nama Allah bahwa dirinya tidak mengatakan hal itu. Maka Allah swt. menurunkan firman-Nya, "Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu)..." (Q.S. At-Taubah 74). Akan tetapi mereka (para sahabat) menduga bahwa Jallas bertobat dari perbuatannya itu dan ternyata tobatnya itu baik. Selanjutnya Ibnu Abu Hatim mengetengahkan pula hadis yang sama, hanya kali ini ia memakai jalur periwayatan yang bersumber dari Kaab bin Malik. Ibnu Saad di dalam kitab Thabaqat mengetengahkan pula hadis yang sama dengan melalui jalur periwayatan yang bersumber dari Urwah. Ibnu Abu Hatim mengetengahkan sebuah hadis melalui Anas bin Malik r.a. yang menceritakan, bahwa sewaktu Nabi saw. sedang berkhutbah, Zaid bin Arqam mendengar seorang lelaki dari kalangan orang-orang munafik mengatakan, "Jika lelaki ini (Nabi Muhammad) benar, sungguh kami lebih buruk daripada keledai." Lalu Zaid bin Arqam melaporkan hal tersebut kepada Nabi saw. akan tetapi lelaki yang mengatakan demikian itu mengingkarinya. Maka Allah swt. menurunkan firman-Nya, "Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu"). (Q.S. At-Taubah 74). Ibnu Jarir mengetengahkan sebuah hadis melalui Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan, bahwa pada suatu hari Rasulullah saw. sedang duduk bernaung di bawah sebuah pohon. Kemudian Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya nanti akan datang kepada kalian seorang manusia yang kedua matanya melihat dengan pandangan setan." Maka tidak lama kemudian datanglah seorang lelaki yang bermata biru, lalu Rasulullah saw. memanggilnya dan bertanya kepadanya, "Mengapa kamu dan teman-temanmu mencaci aku?" Kemudian lelaki itu pergi dan datang kembali bersama dengan teman-temannya menghadap kepada Rasulullah saw. Lalu mereka bersumpah dengan nama Allah, bahwa mereka tidak mengatakan sesuatu yang menyakiti Nabi saw. sehingga Nabi saw. mau memaafkan mereka. Maka pada saat itu juga Allah swt. menurunkan firman-nya, "Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan sesuatu (yang menyakitimu)." (Q.S. At-Taubah 74). Ibnu Jarir mengetengahkan pula sebuah hadis melalui Qatadah yang menceritakan, bahwa ada dua orang lelaki bertarung; yang satu dari Juhainah sedangkan yang lainnya dari Ghiffar. Juhainah adalah teman sepakta orang-orang Ansar, dan ternyata orang yang dari Bani Ghiffar itu dapat membunuh lawannya yang dari Juhainah. Maka pada saat itu Abdullah bin Ubay (orang munafik) berkata kepada kabilah Aus (orang-Orang Ansar), "Tolonglah saudara-saudara kalian, demi Allah, tiada lain perumpamaan antara kita dan Muhammad adalah bagaikan peribahasa yang mengatakan, 'Gemukkanlah anjingmu! Tentulah ia akan memakanmu.' Jika kita kembali ke Madinah niscaya golongan yang kuat akan mengusir golongan yang lemah daripadanya." Maka pada saat itu juga ada seorang lelaki dari kalangan kaum muslimin berlari cepat membawa berita tersebut kepada Rasulullah saw. Kemudian Rasulullah saw. mengutus seseorang untuk menanyakan kepada Abdullah bin Ubay tentang maksud perkataannya itu. Akan tetapi Abdullah bin Ubay bersumpah dengan nama Allah, bahwa ia tidak mengatakannya. Maka Allah swt. menurunkan firman-Nya, "Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan sesuatu (yang menyakitimu)..." (Q.S. At-Taubah 74). Imam Thabrani mengetengahkan sebuah hadis melalui Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan, bahwa ada seorang lelaki yang dikenal dengan nama panggilan Aswad bermaksud ingin membunuh Nabi saw. Maka Allah swt. menurunkan firman-Nya, "Dan mereka menginginkan apa yang mereka tidak dapat mencapainya." (Q.S. At-Taubah 74) Ibnu Jarir dan Abu Syekh mengetengahkan sebuah hadis melalui Ikrimah, bahwasanya seorang bekas budak Bani Addiy bin Kaab membunuh seorang lelaki dari kalangan orang-orang Ansar. Maka Nabi saw. memutuskan hukum supaya si pembunuh membayar diat sebanyak dua belas ribu (dinar). Sehubungan dengan peristiwa ini Allah swt. menurunkan firman-Nya, "Dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan kecukupan kepada mereka sebagai karunia-Nya." (Q.S. At-Taubah 74).
 
 
surah / surat : At-Taubah Ayat : 75
وَمِنْهُم
dan diantara mereka
مَّنْ
orang
عَٰهَدَ
ia berjanji
ٱللَّهَ
Allah
لَئِنْ
sesungguhnya jika
ءَاتَىٰنَا
(Allah) memberikan kepada kami
مِن
dari/sebagian
فَضْلِهِۦ
karuniaNya
لَنَصَّدَّقَنَّ
sungguh kami akan bersedekah
وَلَنَكُونَنَّ
dan sungguh kami adalah
مِنَ
dari/termasuk
ٱلصَّٰلِحِينَ
orang-orang yang sholeh

وَمِنۡهُمۡ مَّنۡ عَاهَدَ اللّٰهَ لَٮِٕنۡ اٰتٰٮنَا مِنۡ فَضۡلِهٖ لَـنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُوۡنَنَّ مِنَ الصّٰلِحِيۡنَ‏ ﴿۷۵﴾  

waminhum man 'aahada allaaha la-in aataanaa min fadhlihi lanashshaddaqanna walanakuunanna mina alshshaalihiina

75. Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: "Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.
 
SEBAB TURUNNYA AYAT: Imam Thabrani, Ibnu Murdawaih dan Ibnu Abu Hatim serta Imam Baihaqi di dalam kitab Dalail mengetengahkan sebuah hadis dengan sanad yang dha'if (lemah) melalui Abu Umamah, bahwasanya Tsa'labah bin Hathib meminta kepada Rasulullah saw., "Wahai Rasulullah! Mintakanlah kepada Allah semoga saya diberi rezeki harta kekayaan." Rasulullah saw. menjawab, "Celakalah engkau ini, hai Tsa'labah, sesungguhnya sedikit kekayaan yang engkau syukuri adalah lebih baik daripada banyak harta yang engkau tidak mampu untuk mensyukurinya." Selanjutnya Tsa'labah mengatakan, "Demi Allah, seandainya Allah memberiku harta yang banyak, niscaya aku akan memberikan hak-haknya kepada setiap orang yang berhak menerimanya." Maka Rasulullah mendoakannya, dan Tsa'labah diberinya seekor kambing. Kemudian kambing yang satu itu menjadi berkembang dan bertambah banyak dalam waktu yang singkat, sehingga kambing milik Tsa'labah memenuhi jalan-jalan kota Madinah. Maka terpaksa Tsa'labah menjauh dari kota Madinah, dan kebiasaan Tsa'labah ialah ia selalu menghadiri salat berjemaah, untuk itu ia keluar dari rumahnya demi salatnya. Kemudian kambingnya yang banyak itu makin bertambah berkembang lagi sehingga tempat-tempat penggembalaan di Madinah tidak dapat menampungnya lagi, maka terpaksa Tsa'labah pun makin menjauh dari kota Madinah. Tsa'labah sebelumnya selalu menghadiri salat Jumat di Mesjid, untuk itu ia selalu keluar meninggalkan tempat penggembalaannya demi salat Jumat. Akan tetapi lama-kelamaan setelah kambingnya makin bertambah banyak lagi dan ia makin menjauh dari kota Madinah, akhirnya ia meninggalkan salat Jumat dan salat jemaah yang biasa ia lakukan sebelumnya itu. Ketika Allah swt. menurunkan firman-Nya, "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka." (Q.S. At-Taubah 103). Kemudian Rasulullah saw. mengangkat dua orang menjadi amil untuk memungut zakat, selanjutnya beliau menuliskan surah perintah untuk dibawa oleh keduanya. Kedua amil itu mendatangi Tsa'labah lalu membacakan kepadanya surah perintah dari Rasulullah saw. Akan tetapi Tsa'labah menjawab, "Pergilah kalian berdua kepada orang-orang lain dahulu, maka bilamana kalian telah selesai dari mereka mampirlah kepadaku." Lalu kedua amil itu melakukan apa yang ia maui, dan ketika keduanya kembali kepadanya, Tsa'labah berkata, "Apa-apaan ini, sesungguhnya zakat itu tiada lain hanyalah saudara daripada jizyah (upeti)," maka keduanya pun berlalu dari Tsa'labah. Kemudian Allah swt. menurunkan firman-Nya, "Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah, 'Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya.'.." (Q.S. At-Taubah 75) sampai dengan firman-Nya, "...karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya, dan (juga) karena mereka selalu berdusta..." (Q.S. At-Taubah 77). Ibnu Jarir dan Ibnu Murdawaih keduanya mengetengahkan pula hadis yang sama, hanya melalui jalur periwayatan Aufiy dari Ibnu Abbas r.a.
 
 
surah / surat : At-Taubah Ayat : 76
فَلَمَّآ
maka setelah
ءَاتَىٰهُم
(Allah) memberi mereka
مِّن
dari
فَضْلِهِۦ
karuniaNya
بَخِلُوا۟
mereka kikir
بِهِۦ
dengannya
وَتَوَلَّوا۟
dan mereka berpaling
وَّهُم
dan mereka
مُّعْرِضُونَ
orang-orang yang membelakangi

فَلَمَّاۤ اٰتٰٮهُمۡ مِّنۡ فَضۡلِهٖ بَخِلُوۡا بِهٖ وَتَوَلَّوْا وَّهُمۡ مُّعۡرِضُوۡنَ‏ ﴿۷۶﴾  

falammaa aataahum min fadhlihi bakhiluu bihi watawallaw wahum mu'ridhuuna

76. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).
 
 
surah / surat : At-Taubah Ayat : 77
فَأَعْقَبَهُمْ
maka (Allah) menimbulkan mereka
نِفَاقًا
kemunafikan
فِى
dalam
قُلُوبِهِمْ
hati mereka
إِلَىٰ
sampai/kepada
يَوْمِ
hari/waktu
يَلْقَوْنَهُۥ
mereka menemuiNya
بِمَآ
dengan apa/sebab
أَخْلَفُوا۟
mereka memungkiri
ٱللَّهَ
Allah
مَا
apa
وَعَدُوهُ
mereka janjikan kepadaNya
وَبِمَا
dan dengan apa /sebab
كَانُوا۟
adalah mereka
يَكْذِبُونَ
mereka berdusta

فَاَعۡقَبَهُمۡ نِفَاقًا فِىۡ قُلُوۡبِهِمۡ اِلٰى يَوۡمِ يَلۡقَوۡنَهٗ بِمَاۤ اَخۡلَفُوا اللّٰهَ مَا وَعَدُوۡهُ وَبِمَا كَانُوۡا يَكۡذِبُوۡنَ‏ ﴿۷۷﴾  

fa-a'qabahum nifaaqan fii quluubihim ilaa yawmi yalqawnahu bimaa akhlafuu allaaha maa wa'aduuhu wabimaa kaanuu yakdzibuuna

77. Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta.
 
 
surah / surat : At-Taubah Ayat : 78
أَلَمْ
tidakkah
يَعْلَمُوٓا۟
mereka mengetahui
أَنَّ
bahwa sesungguhnya
ٱللَّهَ
Allah
يَعْلَمُ
Dia mengetahui
سِرَّهُمْ
rahasia mereka
وَنَجْوَىٰهُمْ
dan bisikan mereka
وَأَنَّ
dan bahwa sesungguhnya
ٱللَّهَ
Allah
عَلَّٰمُ
amat mengetahui
ٱلْغُيُوبِ
segala yang gaib

اَلَمۡ يَعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰهَ يَعۡلَمُ سِرَّهُمۡ وَنَجۡوٰٮهُمۡ وَاَنَّ اللّٰهَ عَلَّامُ الۡغُيُوۡبِ‌ ۚ‏ ﴿۷۸﴾  

alam ya'lamuu anna allaaha ya'lamu sirrahum wanajwaahum wa-anna allaaha 'allaamu alghuyuubi

78. Tidaklah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang ghaib. Kemunafikan adalah dosa yang tidak diampuni Allah.
 
 
surah / surat : At-Taubah Ayat : 79
ٱلَّذِينَ
orang-orang yang
يَلْمِزُونَ
(mereka) mencela
ٱلْمُطَّوِّعِينَ
orang-orang yang memberi dengan sukarela
مِنَ
dari
ٱلْمُؤْمِنِينَ
orang-orang mukmin
فِى
dalam
ٱلصَّدَقَٰتِ
sedekah
وَٱلَّذِينَ
dan orang-orang yang
لَا
tidak
يَجِدُونَ
mereka memperoleh
إِلَّا
selain
جُهْدَهُمْ
kesanggupan mereka
فَيَسْخَرُونَ
maka mereka menghina
مِنْهُمْ
dari mereka
سَخِرَ
menghina
ٱللَّهُ
Allah
مِنْهُمْ
dari mereka
وَلَهُمْ
dan bagi mereka
عَذَابٌ
azab
أَلِيمٌ
yang pedih

اَلَّذِيۡنَ يَلۡمِزُوۡنَ الۡمُطَّوِّعِيۡنَ مِنَ الۡمُؤۡمِنِيۡنَ فِى الصَّدَقٰتِ وَالَّذِيۡنَ لَا يَجِدُوۡنَ اِلَّا جُهۡدَهُمۡ فَيَسۡخَرُوۡنَ مِنۡهُمۡؕ سَخِرَ اللّٰهُ مِنۡهُمۡ وَلَهُمۡ عَذَابٌ اَلِيۡمٌ‏ ﴿۷۹﴾  

alladziina yalmizuuna almuththhawwi'iina mina almu/miniina fii alshshadaqaati waalladziina laa yajiduuna illaa juhdahum fayaskharuuna minhum sakhira allaahu minhum walahum 'adzaabun aliimun

79. (Orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih.
 
SEBAB TURUNNYA AYAT: Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadis melalui Abu Masud Yang menceritakan, bahwa sewaktu ayat mengenai zakat diturunkan, kami memanggul zakat-zakat itu di atas punggung kami. Kemudian datang seorang lelaki dengan membawa zakat yang banyak sekali. Maka orang-orang munafik itu memberikan komentarnya, "Dia riya (pamer)." Dan datang pula seorang lelaki dengan membawa zakat satu sha', lalu mereka pun memberikan komentarnya pula, "Sesungguhnya Allah Maha Kaya dari pemberian zakat orang ini." Maka pada saat itu juga turunlah firman-Nya, "(Orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah..." (Q.S. At Taubah 79). Hadis yang serupa telah disebutkan pula melalui hadis-hadis yang bersumber dari Abu Hurairah, Abu Uqail, Abu Said Al-Khudri dan Ibnu Abbas serta Umairah binti Suhail bin Rafi'. Kesemua hadis itu diketengahkan oleh Ibnu Murdawaih.
 
 
surah / surat : At-Taubah Ayat : 80
ٱسْتَغْفِرْ
mohonkan ampun
لَهُمْ
bagi mereka
أَوْ
atau
لَا
tidak
تَسْتَغْفِرْ
kamu mohonkan ampunan
لَهُمْ
bagi mereka
إِن
jika/kendatipun
تَسْتَغْفِرْ
kamu mohonkan ampunan
لَهُمْ
bagi mereka
سَبْعِينَ
tujuh puluh
مَرَّةً
kali
فَلَن
maka tidak
يَغْفِرَ
memberi ampun
ٱللَّهُ
Allah
لَهُمْ
bagi mereka
ذَٰلِكَ
demikian itu
بِأَنَّهُمْ
karena sesungguhnya mereka
كَفَرُوا۟
mereka kafir
بِٱللَّهِ
kepada Allah
وَرَسُولِهِۦ
dan RasulNya
وَٱللَّهُ
dan Allah
لَا
tidak
يَهْدِى
memberi petunjuk
ٱلْقَوْمَ
kaum
ٱلْفَٰسِقِينَ
orang-orang yang fasik

اِسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ اَوۡ لَا تَسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡؕ اِنۡ تَسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ سَبۡعِيۡنَ مَرَّةً فَلَنۡ يَّغۡفِرَ اللّٰهُ لَهُمۡ‌ؕ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمۡ كَفَرُوۡا بِاللّٰهِ وَرَسُوۡلِهٖ‌ؕ وَاللّٰهُ لَا يَهۡدِى الۡقَوۡمَ الۡفٰسِقِيۡنَ‏ ﴿۸۰﴾  

istaghfir lahum aw laa tastaghfir lahum in tastaghfir lahum sab'iina marratan falan yaghfira allaahu lahum dzaalika bi-annahum kafaruu biallaahi warasuulihi waallaahu laa yahdii alqawma alfaasiqiina

80. Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampunan kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.